Neurotransmitter : Si Pengantar Pesan

Otak manusia adalah organ yang unik, tempat diaturnya proses berfikir, berbahasa, kesadaran, emosi dan kepribadian. Otak terbentuk dari dua jenis sel: yaitu glia dan neuron. Glia berfungsi untuk menunjang dan melindungi neuron, sedangkan neuron membawa informasi dalam bentuk pulsa listrik yang di kenal sebagai potensial aksi.

Mereka semuanya berkomunikasi dengan neuron yang lain dan keseluruh tubuh dengan mengirimkan berbagai macam bahan kimia yang disebut neurotransmitter. Neurotransmitter ini dikirimkan pada celah yang di kenal sebagai sinaps.

Ibaratnya neurotransmitter adalah si pembawa pesan pada sel otak…

Neurotransmiter yang paling mempengaruhi sikap, emosi, dan perilaku seseorang yang ada antara lain asetilkolin, dopamin, serotonin, epinefrin, norepinefrin.

Simak artikel dari anggadewantara.com berikut sampai habis…

 

Sejarah Penemuan Neurotransmitter

Dua tahun setelah farmakolog dari Jerman, Otto Loewi, memenangkan Nobel Prize pada 1936 karena penemuan neurotransmitter yang pertama, Nazi memasukkannya ke penjara. Hal tersebut dikarenakan dia adalah seorang yahudi. Beruntungnya, Loewi dapat menggunakan hadiah uang nobel untuk menyogok dan melarikan diri keluar dari negara tersebut.

Pada suatu hari sekitar tahun 1921 Loewi bermimpi tentang jantung katak. Segera setelahnya, Loewi menuju laboratoriumnya dan mencoba menstimulasi nervus vagus dari jantung, sehingga laju detak jantung melambat.

Kemudian, dia mencoba bereksperimen dengan mengumpulkan cairan dari sekitar jantung dan menaruhnya ke jantung katak yang kedua. Hasilnya, laju detak jantung kedua melambat.

Hal ini disimpulkan Loewi bahwa beberapa zat neurochemical (beberapa tahun setelahnya kemudian dipelajari oleh fisiolog Inggris bernama Henry Dale dan disebut asetilkolin) dilepaskan dari nervus vagus untuk mengontrol laju jantung. Loewi menyimpulkan bahwa saraf mengirim “pesan” dengan mengeluarkan zat kimiawi neurotransmitter.

 

 

Bagaimana mekanisme Neurotransmitter ?

 

Neurotransmiter adalah senyawa organik endogenus membawa sinyal di antara neuron. Dua neuron dipisahkan oleh celah kecil (berjarak 200-300 Angstorms) yang disebut celah sinaps. Aktivitas elektrik dari neuron presinap memicu neuron untuk melepaskan neurotransmitter.

Neurotransmiter terbungkus oleh vesikel sinapsis. Bahan kimia ini berdifusi di celah menuju reseptor pada neuron postsinaps.

Neurotransmitter dalam bentuk zat kimia bekerja sebagai penghubung antara otak ke seluruh jaringan saraf, atau sebaliknya dan pengendalian fungsi tubuh. Neurotransmitter muncul ketika ada pesan yang harus di sampaikan ke bagian-bagian lain.

synaps

 

Jenis-jenis Neurotransmitter :

  • Neurtransmitter golongan Asam amino:
    • asam glutamat
    • asam aspartat
    • serina
    • GABA (Gamma-aminobutyric acid)
    • glisina

 

  • Neurtransmitter golongan Monoamina:
    • dopamin
    • adrenalin
    • noradrenalin
    • histamin
    • serotonin
    • melatonin

 

  • Neurtransmitter golongan Peptida :
    • Beta endorfin
    • Opioid peptida
    • Somatostatin
    • Kalsitonin
    • Vasopressin
    • Oksitosin
    • Glukagon

 

  • Bentuk lain: asetilkolina, adenosina, anandamida, dll.

 

Kadang-kadang, neurotransmiter juga diklasifikasikan sebagai eksitasi dan inhibisi. Klasifikasi ini didasarkan pada tindakan mereka pada neuron. Neurotransmiter eksitasi adalah neuron yang merangsang neuron dan menstimulasi otak. Sementara itu neurotransmiter inhibisi dikenal memiliki efek menenangkan pada otak.

Neurotransmitter seperti GABA dan serotonin berada di kategori neurotransmitter inhibisi, sementara epinefrin dan norepinefrin adalah neurotransmiter eksitasi. Dopamin di sisi lain, dapat bertindak sebagai eksitasi, serta neurotransmiter inhibisi.

 

Beberapa neurotransmitter yang ditemukan memiliki pengaruh dalam berbagai penyakit. Seperti jumlah/tingkat dopamin dalam Parkinson atau schizophrenia. Selanjutnya, neurotransmitter seperti serotonin yang mampu meregulasi memori, tidur, dan mood.

Oleh karena itu manusia berlomba-lomba membuat obat-obatan yang mampi mempengaruhi neurotransmitter. Obat-obatan  itu seperti contohnya Prozac mampu menghambat reuptake dari serotonin sehingga menjadi antideppresant.

Berikut saya jelaskan neurotransmitter yang memiliki peranan penting

 

Neurotransmitter yang Paling Berpengaruh dan Penjelasan Fungsinya

 

#1 Asetilkolin

asetilkolin

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, neurotransmitter ini ditemukan pada tahun 1921, oleh Otto Loewi.  Asetilkolin berperan untuk merangsang otot. Asetilkolin mengaktifkan neuron motorik yang mengontrol otot rangka.

Hal ini juga berkaitan dengan pengaturan aktivitas di area tertentu dari otak, yang berhubungan dengan perhatian, gairah, belajar, dan juga memori. Orang dengan penyakit Alzheimer biasanya ditemukan memiliki kadar asetilkolin yang jauh lebih rendah.

 

#2 Dopamin

neurotransmitter dopamin

Dopamin adalah neurotransmitter yang mengontrol gerakan tubuh secara sukarela, dan berhubungan dengan mekanisme penghargaan otak. Dengan kata lain, dopamine mengatur emosi untuk merasakan kesenangan.

Obat-obatan seperti kokain, heroin, nikotin, opium, dan bahkan alkohol mampu meningkatkan neurotransmitter ini. Tingkat dopamin yang sangat rendah dikaitkan dengan penyakit Parkinson, sementara pasien skizofrenia biasanya ditemukan memiliki kelebihan dopamine di lobus frontal otak mereka.

 

#3 GABA (Gamma-aminobutyric Acid)

neurotransmitter GABA

GABA adalah neurotransmiter inhibisi yang memperlambat aktivitas neuron, untuk mencegah mereka terlalu bersemangat. Ketika neuron otak memiliki semangat yang berlebih, hal tersebut dapat menyebabkan kecemasan.

Dengan demikian, GABA dapat membantu mencegah kecemasan. GABA terdiri dari asam amino non-esensial yang diproduksi oleh tubuh dari glutamat. Tingkat GABA yang rendah dapat memiliki hubungan dengan gangguan kecemasan. Obat-obatan seperti Valium bekerja dengan meningkatkan tingkat neurotransmitter ini.

 

#4 Serotonin

neurotransmitter serotonin

Serotonin adalah neurotransmitter inhibisi penting yang dapat memiliki efek mendalam pada emosi, suasana hati, dan kecemasan. Hl Itu terlibat dalam mengatur tidur, bangun, dan makan. Selain itu juga memainkan peran dalam persepsi juga.

Obat halusinogen contohnya seperti LSD mengikat ke reseptor serotonin, sehingga memblokir transmisi impuls saraf. Karena itu pengalaman indra pada tubuh akan berubah.

 

#5 Glutamat

neurotransmitter glutamat

Glutamat adalah neurotransmitter eksitasi yang ditemukan pada tahun 1907 oleh Kikunae Ikeda dari Tokay Imperial University. Glutamat adalah neurotransmitter yang paling sering ditemukan di sistem saraf pusat. Glutamat terutama terkait dengan fungsi seperti belajar dan memori.

Namun, kelebihan glutamat beracun bagi neuron. Produksi glutamat yang berlebihan terkait dengan penyakit yang dikenal sebagai amyotrophic lateral sclerosis (ALS) atau penyakit Lou Gehrig.

 

#6 Melatonin

neurotransmitter melatonin

Melatonin adalah hormon yang diproduksi oleh kelenjar pineal yang juga bertindak sebagai neurotransmitter. Pada dasarnya melatonin mengontrol siklus tidur dan bangun pada manusia. Hal ini juga terkait dengan pengendalian suasana hati dan perilaku seksual.

Produksi melatonin tergantung pada cahaya. Cahaya ke retina menghambat produksi melatonin, sementara kegelapan memiliki efek merangsang pada produksinya.

 

#7 Endorfin

neurotransmitter endorfin

Endorfin adalah neurotransmiter yang menyerupai senyawa opioid, seperti opium, morfin, dan heroin dalam strukturnya. Efek endorfin pada tubuh juga sangat mirip dengan efek yang dihasilkan oleh senyawa opioid. Bahkan, nama ‘endorfin’ sebenarnya adalah bentuk pendek untuk ‘morfin endogen’.

Sama seperti opioid, endorfin dapat mengurangi rasa sakit, stres, dan meningkatkan ketenangan dan ketenangan. Obat opioid menghasilkan efek yang sama dengan menempel ke reseptor endorfin. Endorfin memungkinkan beberapa hewan untuk melakukan hibernasi dengan memperlambat laju metabolisme, respirasi, dan detak jantung mereka.

 

#8 Epinefrin dan Norepinefrin

neurotransmitter adrenalin

Epinefrin (juga dikenal sebagai adrenalin) adalah neurotransmitter eksitasi. Zat ini mengontrol perhatian, gairah, kognisi, dan fokus mental. Norepinefrin juga merupakan neurotransmiter rangsang, dan zat ini mengatur mood, rangsangan fisik dan mental.

Peningkatan sekresi norepinefrin juga meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah.

 

Kesimpulan…

Setiap sel saraf dalam tubuh manusia perlu melakukan komunikasi. Nah, neurotransmitter adalah zat kimia yang memungkinkan saraf untuk berkomunikasi satu sama lain. Dengan demikian, zat ini mampu mengatur berbagai fungsi tubuh.

Tingkat jumlah yang tinggi maupun rendah dari bahan kimia ini dapat mengubah fungsi seluruh sistem saraf pada manusia.

 

 

 

 

Referensi :

Guyton and Hall. Fisiologi Kedokteran

Valenstein, E. 2002. The Discovery of Chemical Neurotransmitters Brain and Cognition, 49 (1), 73-95

Alli N McCOy. 2014.  Otto Loewi (1873–1961): Dreamer and Nobel laureate. Singapore Medical Journal

Leave a Reply